Gunung Semeru

SUARA gemuruh meletusnya Gunung Semeru diiringi gulungan awan panas ‘wedhus gembel’ nampak begitu menakutkan. Rakyat berlari menyelamatkan diri. Hidup terasa begitu berharga di tengah lontaran batu dan aliran lava pijar yang begitu ganas menerjang. Kekuasaan alam hadir mengambarkan betapa dahyatnya kekuatan Gunung Semeru. Ia begitu perkasa. Alam dan manusia di sekitarnya menjadi tidak berdaya.

Letusan gunung Semeru yang begitu tiba-tiba membuat berbagai mitigasi bencana yang telah dipersiapkan menjadi berbeda antara rencana dengan kenyataan. Berbagai instrumen teknologi penginderaan yang telah terpasang sepertinya tidak berdaya. Sebab hingga saat ini, belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara tepat kapan persisnya letusan erupsi terjadi. Demikian halnya seberapa besar kekuatan magma yang bergelora di dalam bumi akan terlontar ke angkasa melalui letusan gunung berapi masih sulit dikalkulasi. Gunung berapi seperti Gunung Semeru tetap saja menyimpan misteri.

Bacaan Lainnya

Dalam keperkasaan alam itu, manusia kembali pada kodratnya, bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam, terlebih yang berkaitan dengan kehidupan, Tuhanlah pemegang kehidupan itu. Dalam peristiwa itu, manusia berharap, berjuang, namun sekaligus juga berpasrah bahwa meletusnya Gunung Semeru sepertinya sudah ginaris, terjadi karena kehendak Tuhan Sang Pengatur Kehidupan.

Keyakinan terhadap Sang Pengatur kehidupan itu secara mitologis juga muncul dalam keyakinan terhadap asal-usul Gunung Semeru. Gunung dianggap sebagai axis mundi atau poros dunia yang menghubungkan antara dunia bawah yang dihuni oleh manusia yang telah meninggal dengan dunia atas yang dihuni oleh para Dewa dan leluhur manusia. Gunung direpresentasikan dalam wujud yang lain dalam bentuk Candi atau kuil sebagai sarana pemujaan dan komunikasi dengan Tuhan pemilik jagad raya.

Gunung Semeru bagi masyarakat yang hidup di pulau Jawa bermakna sangat sakral karena dianggap sebagai tonggak penciptaan tanah Jawa. Dalam manuskrip kuno Tantu Panggelaran dikisahkan bagaimana Batara Guru memerintahkan kepada Batara Brahma dan Wisnu untuk memindahkan Gunung Mahameru yang berada di Jambudwipa (India) ke pulau Jawa. Alasan Batara Guru untuk memindahkan Gunung Mahameru ke pulau Jawa sebab keadaan pulau Jawa ketika itu bergoyang-goyang dan berpindah-pindah sehingga perlu adanya paku bumi dalam bentuk gunung agar pulau Jawa menjadi kokoh.

Mitos Gunung Semeru itulah yang hidup. Mitos mengandung kebijaksanaan, nilai-nilai budaya, dan sekaligus pesan yang menggambarkan suara alam bawah sadar manusia. Suara itu lahir dari keterbatasan manusia di dalam melihat berbagai fenomena alam. Mitos sebagai cerita rakyat yang mengimajinasikan kehendak para Dewa atau manusia setengah dewa yang mengatur kehidupan manusia, membawa rahmat keadilan, menyingkirkan berbagai bentuk angkara murka. Mitos sebagai cerita yang hidup diyakini kebenarannya oleh para pengikutnya yang menyampaikan cerita itu lewat tradisi turun-temurun, dari mulut ke mulut sebagai realitas kehidupan. Mitos seringkali memberikan panduan mengenai harapan, panduan hidup untuk berbuat baik, bahkan bagaimana mitos menghadirkan cita-cita kolektif tentang adanya Ratu Adil yang muncul setelah jaman kalabendu, jaman kekacauan, yang diyakini oleh sebagian besar masyarakat Nusantara.

Mitos tentang Ratu Adil itulah yang diangkat oleh Bung Karno guna membangun harapan. Harapan yang hanya diwujudkan dengan kesadaran, dengan membangun tekad perjuangan sehingga menjadi kenyataan. Harapan yang dibangun dengan mengubah alam mitos, dihubungan dengan realitas sejarah nusantara yang gilang gemilang sebagaimana terjadi di Sriwijaja dan Majapahit. Dengan konektivitas historis itu, apa yang ada dalam mitos Ratu adil, terhubung dengan realitas Nusantara yang hebat ketika hadir sebagai suatu national staat yang merdeka dan berdaulat. Kesadaran inilah yang dibangun oleh Bung Karno, bahwa _national staat_ baru bernama Indonesia ini akan terbentuk apabila dibangkitkan kesadarannya sebagai satu bangsa. Satu bangsa memiliki perasaan senasib sepenanggungan. Satu bangsa memiliki satu cita-cita bersama. Satu bangsa adalah satu individualitet yang memiliki satu jiwa, dan satu bangsa yang memiliki kehendak untuk merdeka.

Kehendak untuk merdeka ini bertumpu pada kaum pergerakan yang sebagian besar adalah para pemuda Indonesia. Pemuda yang memiliki kesadaran sebagai satu bangsa yang bertekad bulat untuk merdeka. Gelora semangat perjuangan pemuda-pemudi itulah kekuatan progresif yang mampu menjebol benteng kekuatan kolonialisme yang telah lama bercokol di Nusantara.

Kekuatan bangsa yang sadar untuk merdeka dengan topangan energi pergerakan para pemuda Indonesia tersebut sangatlah hebat. Jauh lebih dahyat daripada letusan Gunung Semeru sekalipun. Kekuatan inilah yang harus dibangkitkan. Kekuatan yang berdiri kokoh atas dasar kesadaran masa lalu, menyadari berbagai persoalan saat ini, dan melahirkan energi untuk membangun masa depan yang jauh lebih hebat dari masa lalu.

Energi yang lahir dari kesadaran itu tidak akan pernah melemah dalam berbagai ujian. Hal inilah yang dialami oleh Bung Karno ketika meringkuk di Penjara Banceuy dan Sukamiskin. Energi juang itu juga tidak surut ketika Bung Karno dibuang ke Ende dan Bengkulu. Justru di tengah penjara keterasingan itulah energi juang menjadi semakin menyala dan semakin mendorong kesadaran bahwa dari Sabang sampai Merauke adalah satu kesatuan kebangsaan Indonesia. Dalam penjara dan keterasingan itulah Bung Karno berselancar menelusuri peradaban dunia melalui buku. Penjara dan keterasingan ternyata membuahkan begitu banyak berkah bagi kematangan pemikiran Bung Karno tentang falsafah dari Indonesia Merdeka, yakni Pancasila. Dalam keseluruhan proses itu nampak ungkapan kebenaran peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

Peribahasa itu pula yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat di kawasan Gunung Semeru. Letusan Gunung Semeru memang membawa kesengsaraan. Rakyat di kawasan Semeru menjadi korban. Namun di tengah kesedihan mendalam akibat ditinggalkan sanak saudara, ataupun hilangnya harta benda yang terbenam tumpahan lava, harapan untuk kembali pada kehidupan normal tetap bersemi dalam kegundahan. Letusan Gunung Semeru dengan seluruh deritanya, akan membawa berkah kesuburan bagi tanah-tanah pertanian. Letusan gunung Semeru pun melahirkan begitu banyak makna, mulai dari tanda-tanda perubahan jaman, hingga perubahan peradaban. Ada juga yang memaknakan bahwa letusan Gunung Semeru sebagai sinyal dari alam, ketika kebudayaan nusantara yang begitu indah dan beragam mulai banyak yang ditinggalkan. Perubahan budaya ini sangat mencolok, seakan mengaburkan rekam jejak sejarah nusantara yang begitu kaya dengan model pakaian kebaya, kain tenun, hingga konde dengan bunga melati yang menghiasinya.

Di tengah letusan, muncul juga cerita tentang perjanjian kuno. Dikatakan bagaimana ketika Islam masuk ke Nusantara diawali dengan adanya perjanjian leluhur, agar seluruh kebudayaan nusantara yang telah bersintesa sempurna, dan saling menyempurnakan, dapat tetap diabadikan, bukan dilenyapkan. Atas cerita ini ada yang mengaitkan bagaimana letusan Gunung Semeru seakan menjadi pertanda terjadinya perubahan kultur dan kebudayaan yang kini semakin meninggalkan adat istiadat Nusantara. Semua cerita tersebut sah untuk hidup, termasuk bagaimana letusan Gunung Semeru yang dianggap keramat tersebut menjadi pertanda tentang perubahan dalam tatanan politik. Bagi kaum Sukarnois tentu saja berharap, agar perubahan tatanan yang disimbolkan dengan metelusnya Gunung Semeru diharapkan merubah tatanan politik yang kapitalistik liberal, menjadi tatanan yang lebih ideologis atas dasar Pancasila, jiwa bangsa.

Seluruh cerita seputar meletusnya Gunung Semeru di atas dibenarkan menjadi perbincangan bebas di tengah pengungsian. Namun yang pasti, cerita tentang bantuan gotong royong mengalir dari seluruh negeri. Terbukti, bagaimana di tengah bencana, gotong royong, empati, dan perasaan welas asih terus berkumandang. Dan inilah cerita yang terpenting, bagaimana gotong royong hadir sebagai kultur nasional. Dengan gotong royong ini, rakyat yang menjadi korban dikuatkan.

Di tengah gotong royong yang mampu meringankan beban tersebut, sebaiknya pilihan rasional atas letusan Gunung Semeru tetap dikedepankan. Mengapa? Sebab belajar dari Jepang yang telah berhasil bergeser dari alam mitos ke modern, fenomena alam seperti letusan gunung berapi disikapi secara kritis dan rasional dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi guna mempelajari fenomena alam tersebut, hingga ditemukan instrumen yang bisa dipakai untuk mendeteksi kapan gunung api akan meletus dan seberapa besar dampak bencana alam tersebut bisa dikurangi. Hal yang sama juga muncul dari pengembangan teknologi setidaknya untuk memperkirakan terjadinya tsunami.

Dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu mengungkapkan berbagai kemungkinan terjadinya bencana alam, mitigasi bencana dapat dilakukan. Pilihan rasional inilah yang seharusnya diambil mengingat indonesia merupakan lintasan jalur ring of fire, suatu rangkaian gunung berapi yang begitu aktif. Atas dasar hal tersebut, berbagai kegiatan riset dan inovasi dengan mengembangkan berbagai instrumen untuk mengurangi berbagai dampak bencana bagi keselamatan rakyat harus hadir sebagai cerita utama, bukannya berkutat pada mitos yang menghambat kemajuan. Mengembangkan rasionalitas atas peristiwa meletusnya Gunung Semeru akan membuka tabir kebenaran misalnya tentang sistem penanganan bencana nasional, apakah sudah tepat; sistem tata ruang yang mengatur tempat tinggal warga, apakah sudah memerhitungkan faktor keselamatan, dan apakah wilayah pemukiman tersebut memang wilayah terdampak yang masuk dalam daerah bahaya manakala bencana terjadi. Begitu banyak hal yang bisa dilakukan dengan belajar dari peristiwa alam. Dimulai dari upaya menyempurnakan tata kelola pemerintahan, sistem teknologi mitigasi bencana, kebijakan pembangunan, hingga bagaimana membangun sistem pendidikan dan sistem sosial yang menempatkan “kesadaran terhadap bencana” sebagai hal yang penting. Kesemuanya perlu, agar ke depan korban rakyat meninggal akibat bencana dapat ditekan sedikit mungkin. Sebab di situlah makna melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Merdeka!!!.

Penulis: Hasto Kristiyanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *