Ho Eng Dji, Orang Tionghoa Pencipta Lagu Makassar

KOREKSINEWS.id – Sebagian dari kita pasti familiar dengan lagu-lagu daerah, Anging Mammiri, Ati Raja, Ammacciang, Sailong, Anak Kukang adalah lagu-lagu daerah populer dari Makassar.

Tapi, tidak banyak yang mengetahui, jika beberapa di antara lagu tersebut ternyata diciptakan oleh seorang musisi dari keturunan Tionghoa. Namanya Ho Eng Dji. Dialah pencipta lagu yang berjudul Sailong, Ati Raja dan Ammacciang yang begitu populer.

Bacaan Lainnya

Lagu Ati Raja dan Ammacciang bahkan berkali-kali meraih penghargaan International saat dibawakan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Hasanuddin pada kompetisi di China, Japan, Italy dan USA.
Lirik lagu ciptaannya berbahasa tinggi dengan melodi khas Makassar Melayu. Jika dilantunkan dengan benar bisa bikin merinding.

Saat masih kanak-kanak, Ho Eng Dji (1906-1960), mengikuti orang tua­nya merantau dari daratan China ke Makassar. Ia terjun langsung ke dalam budaya Makassar dan dikenal sebagai sosok China perantauan yang mampu beradaptasi, bahkan melebur dalam budaya setempat.

Pada dekade tahun 1930-an hingga 1960 an, nama Ho Eng Dji sangat populer. Ia lebih dikenal sebagai musisi yang melahirkan lagu-lagu daerah Makassar yang populer hingga saat ini. Hanya sedikit orang yang tahu kalau Ho Eng Dji juga banyak menulis syair-syair dalam bahasa Makassar.

Syair-syair itu disimpannya dalam sebuah kotak kayu. Pada tahun 1950 kumpulan syair itu ditemukan oleh Njoo Cheng Seng dan lalu menjadikannya sebagai ilustrasi cerita roman “Tjilik”nya. Cerita ini terbit dua kali dalam sebulan pada saat itu di Jakarta. Roman “Tjilik” menggunakan bahasa Indonesia dan syair-syair Ho Eng Dji ditulis dalam bahasa daerah Makassar yang diterjemahkan Njoo Cheng Seng ke dalam bahasa Indonesia.

Latar belakang Ho Eng Djie menyatu dalam seni musik daerah Makassar di awali oleh rasa prihatinnya melihat persoalan diskriminasi di Makassar tentang perlakuan sikap buruk warga pribumi pada umumnya terhadap warga keturunan China.

Ho Eng Djie juga mendirikan Orkes bernama Kullu-Kulluwa. Orkes ini, adalah orkes lagu-lagu daerah Makassar, beberapa yang direkam di atas piring hitam (dahulu belum ada pita kaset). Ho Eng Djie berupaya membaur dengan warga asli melalui seni suara.

Nama Ho Eng Dji oleh Pemerintah Kota Makassar (sejak tahun 2012) diabadikan sebagai sebuah nama jalan, menggantikan nama Jalan Jampea.#Ist/Jay.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *