KEBERANIAN

“Manusia Harus Terus Menjelajahi Cakrawala Pemikirannya,” begitu Stephen Hawking mendefenisikan satu keberanian untuk melahirkan teori fisika ditengah keterbatasan fisiknya.

Kelemahan fisik seseorang bukan penghalang dalam merekontruksi pemikiran, ide yang membunca dalam ruang – ruang kehidupan.

Bacaan Lainnya

Seuntai kata dan narasi bisa lahir dari sebuah pemikiran besar dalam mengendus cahaya konotatif dan denotatif. Bagaimana mungkin slogan bisa nenembus realitas jika tak memulai dengan tindakan.

Tindakan tak mampu mengubah realitas dalam keraguan hati. Memunculkan gumpalan pertanyaan . Seperti kita tak yakin bahwa waktu memiliki kodrat. Memiliki akhir karena ia berawal.

Padahal seorang Hawking menyakini bahwa dunia ini akan hancur. Sama persis dalam keyakinan kita pada kalimat qalam Ilahi. Narasi itu sangat jelas bahwa akhir zaman pasti ada.

Gerbong kehidupan itu terus melaju kencang menuju tujuan akhir dari sketsa perjalanan jiwa. Jiwa memerintahkan nalar seperti magnit yang mendepak alam pikir untuk memulai keberanian.

Meski sesungguhnya hati memiliki nalarnya sendiri. Sedangkan nalar tak memiliki hati. Begitu Balise Pascal memandang nalar.

Keberanian matahari memancarkan sinarnya kebumi. Keberanian mengubah gelap menjadi terang. Keberanian berburu kekuasaan.

Seakan menjadi pembela ditengah tandusnya keyakinan dan kepercayaan. Seperti membela Tuhan. Padahal Gusdur pun menyebutnya bahwa Tuhan tidak perlu dibela karena DIA yang maha kuasa.

Keberanian bukanlah satu percobaan (eksprimen) yang menggerakkan tangan – tangan peneliti di ruangan laboratorium. Sebab berani belum tentu mampu merefleksikan keberanian hati.

Keberanian hati tak cukup menahan laju gelombang dahsyat tanpa keyakinan jiwa bahwa doa itu mampu mengalahkan rasa takut.

Seorang filosofi Yunani Aristoteles menyakini bahwa doa akan membuat orang lemah menjadi kuat. Orang tidak percaya menjadi percaya. Dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan.

Bahkan penyair besar sekelas WS Rendra mendeskripsikan tiga dimensi kekuatan yaitu kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala.

Kemudian, dimana letak keberanian kita? Keberanian meminjam kata dan mengejanya dalam ketidakaturannya.

Keberanian meminjam estetika ditengah tandusnya etika. Menggelorakan semangat keinginan atas selera musik seirama. Padahal satu irama musik belum tentu nikmat ditelinga pendengar yang lain.

Berabad- abad lamanya penemu musik tak pernah berpikir otoriter. Ia melahirkan musik dengan rasa kelembutan agar nikmat didengar.

Musik melayu misalnya terus memacu dirinya dan mengubah jendrenya dengan irama bermacam-macam. Tapi tak pernah mengubah rohnya tetap melayu.

Begitupula dalam mendefenisikan satu keberanian tak cukup dalam sudut padang yang kognotif.

Seorang Pramoedya Ananta Toer memandang keberanian dengan bijak, bahwa keberanian adalah ketulusan dan kesederhanaan adalah kejujuran.

Dengan demikian pilihan keberanian seperti bumi ada siang dan malam, ada hitam putih. Yang terus berputar mengitari cakrawala. Lantas, kita dimana meletakkan keberanian itu?(*)

Penulis: Mursalim Majid

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *