Membaca Fenomena Kemunculan Kerajaan Fiktif dalam Perspektif Revivalisme

OPINI – Akhir-akhir ini kita kembali digemparkan dengan fenomena atas munculnya sejumlah kerajaan-kerajaan fiktif, seperti Keraton Agung Sejagat, Sunda Empire, kerajaan King Of The King, dan beberapa kerajaan-kerajaan fiktif lainnya yang hampir menyita perhatian publik. Ini menarik untuk ditelaah secara mendalam, karena spiritnya cukup beragam, namun semuanya bermuara pada upaya mensejahterakan masyarakat.

Kecenderungan seseorang untuk menjadi seorang pemimpin (Raja) dengan bangunan konsepsi yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat itu adalah hal lumrah, bisa saja dilatar belakangi atas kondisi negara yang dianggapnya carut marut, atau bahkan ada motif politik hingga sampai pada sebuah upaya mendirikan kerajaan dengan dalih kesejahteraan.

Bacaan Lainnya

Ada ekspektasi untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa ini untuk mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan dan kesejahteran, namun ini tentu bukanlah sebuah upaya untuk menyokong lahirnya kerajaan-kerajaan baru nan fiktif ini, tetapi semestinya bisa menjadi cermin sekaligus otokritik terhadap kondisi Negara yang seolah abai atas cita-cita perubahan kearah yang lebih baik. Belum lagi kemajuan teknologi yang sebagian hampir menggilas nilai-nilai kebudayaan, hingga melahirkan reaksi dari sejumlah kelompok untuk mengembalikan orisinilitas kebudayaan. Sayangnya kita tak punya kemampuan membendung hal itu, alasannya cukup sederhana, dimana kita tengah berada pada kondisi rapuhnya bangunan epistimologi kebudayaan kita.

Fenomena munculnya kerajaan baru ini, menurut Adrian Perkasa salah satu dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Air Langga (UNAIR) harus dilihat dalam persfektif Revivalisme. Dimana Revivalisme sendiri menurut Hanley dan Davidson (2008) adalah merupakan ide akan kebangkitan kejayaan suatu masa keemasan kerajaan pada masa lalu. Diatas kita sudah mencoba membuka kran berpikir pembaca yang budiman atas latar belakang dari munculnya kerajaan fiktif tersebut, dimana bisa saja mereka jenuh melihat kondisi masyarakat yang jauh dari kesejahteraan lalu memunculkan sebuah gagasan histori keemasan kerajaan masa lalu yang dianggap mampu menjadi solusi atas semua problem.

Diera moderenisme saat ini, masih saja terdapat sejumlah masyarakat yang meyakini akan kemunculan kerajaan dimasa lalu, belum lagi tokoh-tokoh yang mengusung kerajaan fiktif ini mampu menghibnotis para pengikutnya dengan kemampuan menguasai psikologi massa sehingga orang mudah percaya, hingga bukan tidak mungkin kepentingan politik juga akan dimasukkan kedalamnya.

Keraton Agung Sejagat, Sunda Empire, kerajaan King Of The King adalah satu dari sekian banyak fakta atas upaya sejumlah kelompok tertentu ataupun secara persoanal untuk mewujudkan kembali masa keemasan kerajaan dimasa lalu, para pengikut dari kerajaan baru ini menurut Prof. Koentjoro Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada mengatakan bahwa bisa saja dipengaruhi kondisi psikologi dimana sebuah kondisi kejiwaan yang umumnya dialami oleh orang-orang yang kehilangan kekuasaaan atau jabatan yang diikuti menurunnya harga diri (Baca Post Power Syndrom). Hal itu terlihat para pegikutnya rela masuk bukan dengan motif ekonomi, namun mereka butuh panggung sekaligus legitimasi publik atas ekspektasi yang ada pada dirinya.

Gerakan Revivalisme bermotif kebudayaan ini tentu akan tetap berkembang, jika generasi muda yang saat ini apatis terhdap pendidikan kebudayan, hinnga pelajaran kebudayaan yang orisinilitas bukan tak mudah untuk didistorsi. Kita sudah terlanjur terjangkit penyakit lupa dengan sejarah bangsa kita yang berawal dari kerajaan-kerajaan besar, hampir para tokoh sejarawan yang mampu mengurai secara konfrehensif tak punya panggung, hingga berujung pada melemahnya bangunan epistimologi sejarah dan kebudaayaan kita.

Pada akhir catatan sederhana ini, ada baiknya kita kembali pada penguatan epsitimologi sejarah dan kebudayaan kita masing-masing disetiap daerah yang ada di Negara ini. Mengembalikan pelajaran muatan lokal ke institusi pendidikan dimulai sejak Sekolah Dasar hingga ketingkat Perguruan Tinggi sebagai penguatan dan tidak tercerabutnya generasi dari akar kebudayaan.(**)

Penulis: Adhi Riadi

Mamuju, 30 Januari 2020.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *