Menurunkan Stunting di Sulbar Melalui Pemberdayaan Masyarakat di Kampung Keluarga Berkualitas

MAMUJU | KOREKSINEWS – Persoalan kemiskinan, status gizi dan kesehatan dewasa ini masih menjadi masalah utama di Indonesia dalam menyongsong Indonesia Sejahtera tahun 2025 dan Generasi Emas tahun 2045.

Salahsatu ancaman terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, adalah masalah percepatan penurunan stunting.

Berdasarkan hasil survey status gizi Balita pada tahun 2022, prevalensi stunting Indonesia sebesar 21,6 persen.

Sekretaris Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Barat, Rusdiyanto Monoarfa saat membuka kegiatan pemberdayaan masyarakat di kampung keluarga berkualitas dalam rangka penurunan Stunting di hotel Grand Putra, Mamuju, Minggu (14/5/2023).

Ia menyatakan, keberadaan Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) diharapkan menjadi sebuah potensi untuk pemberdayaan masyarakat dan keluarga dalam upaya penurunan stunting di Sulawesi Barat.

“Kaitannya dengan stunting, sebagai upaya kita untuk menciptakan generasi emas, pemberdayaan kampung KB diharapkan mampu menghasilkan keluarga berkualitas yang akan berkontribusi pada pembangunan melalui kolaborasi multi sektor untuk saling bersinergi,” kata Rusdiyanto.

Lebih lanjut Rusdiyanto menegaskan, diperlukan komitmen dari para pemangku kebijakan dan pemangku kepentingan di berbagai tingkatan pemerintahan, serta partisipasi masyarakat dalam melaksanakan kegiatan di akar rumput dalam berbagai program berbasis keluarga di tingkat desa/kelurahan.

“Stunting merupakan tanggung jawab bersama yang dilaksanakan dengan gotong royong, olehnya itu kami meminta support dari peserta yang hadir khususnya kepala desa dalam memberdayakan kampung KB untuk mengambil peran dan inisiatif dalam upaya menurunkan stuting melalui dukungan anggaran dari dana desa,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, pada saat menyampaikan laporan panitia, Jasmiati Paba berujar bahwa perlu dilakukan pembekalan dalam bentuk pemberdayaan masyarakat di kampung KB, dalam rangka penurunan stunting yang berkesinambungan dalam menjalankan implementasi program hingga di lini lapangan.

“Melalui pertemuan ini, Kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam upaya pemenuhan gizi seimbang bagi keluarga berisiko stunting, mampu mengimplementasikan penyelenggaraan program di kampung KB seperti Dapur Sehat Bergizi Atasi Stunting (DAHSAT) yang diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan kelompok,” terang Jasmiati.

Untuk diketahui, kegiatan pemberdayaan masyarakat di kampung keluarga berkualitas dalam rangka penurunan stunting di Sulawesi Barat akan dilaksanakan selama 3 hari sejak tanggal 14-16 Mei 2023 dengan menghadirkan peserta sebanyak 30 orang yang terdiri dari 6 orang pengelola program pengendalian penduduk OPD KB kabupaten dan 24 orang kepala desa dari kampung KB dengan kategori dasar se Sulawesi Barat.(Padly)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *