Permintaan Larva Kering asal Indonesia Tetap Tinggi di Pasar Dunia

KOREKSINEWS.id – Ekspor dua jenis larva asal Bogor tercatat tetap tinggi pada triwulan pertama 2020. Larva lalat tentara hitam, black soldier fly (BSF) dan larva kering, magot terus melapak masing-masing di pasar ekspor Jepang dan Inggris.

Sepanjang Januari hingga Maret 2020, permohonan sertifikasi kesehatan hewan atau health certificate (HC), sebagai persyaratan teknis dari negara tujuan ekspor, terus berlangsung di Karantina Pertanian Tanjung Priok.

Bacaan Lainnya

Menurut Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ekspor bukan hanya soal devisa, tapi juga kebanggaan bagi bangsa.

“Ini pesan pak Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo). Untuk itu dibutuhkan pelaku usaha di bidang pertanian yang terus berinovasi,” kata Ali Jamil, dalam rilis Kementerian Pertanian yang diterima IndonesiaDev, Kamis (16/4/2020).

Menurutnya, di negara tujuan ekspor, jenis lalat bersih ini digunakan sebagai sumber protein campuran bahan pembuatan pakan ternak seperti unggas dan ikan.

Secara geografis, Indonesia memiliki keuntungan akan banyaknya sinar matahari yang sangat dibutuhkan BSF dalam berkembangbiak.

“Potensi demikian kita gali, bentuk korporasi dilinkungan terdekat, olah dan garap agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan, khususnya petani,” ucapnya.

Untuk teknologi pembudidayaan dan bahkan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kementan dengan program strategisnya telah menyiapkannya. “Jangan ragu, mari di manfaatkan,” ajak Jamil.

Menurutnya, ini saatnya Indonesia bergerak cepat dan bahu membahu. “Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan dan industri dalam negeri, sektor pertanian juga harus bisa ekspor. Untuk menambah devisa,” tukas Jamil.

Sementara itu, Purwo Widarto, Kepala Karantina Pertanian Tanjung Priok memberikan data permohonan fasilitasi ekspor produk pertanian asal sub sektor perternakan ini.

“Tercatat sebanyak 0,6 ton larva BSF dengan nilai Rp. 44,5 juta dengan tujuan Jepang. Dan larva kering sebanyak 1,4 ton senilai Rp. 857,6 juga tujuan Inggris telah dikirimkan pada periode Januari hingga Maret 2020,” ungkapnya.

Purwo juga menambahkan, adanya penurunan jumlah permohonan sertifikasi di unit kerjanya sebanyak 26% dibanding periode yang sama tahun lalu.

“Namun, lalu lintas produk pertanian dan turunannya di Pelabuhan Laut Tanjung Priok tetap berjalan, dan kini mulai berangsur meningkat sejalan dengan masa ‘lockdown’ yang telah berakhir di Cina dan beberapa negara lainnya,” ucap Purwo lagi.

Potensi kekayaan sumber daya alam hayati kita, menurutnya tidak hanya besar, namun sangat diperlukan dan dibutuhkan oleh pasar dunia.#Rls/Siar/Red.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *