Refleksi Diri Sebelum Pesta Politik

OPINI – Tahun ini adalah pesta Pemilu, pesta yang tidak hanya akan dirasakan oleh penduduk Indonesia, tetapi juga lebih dari 60 negara di seluruh dunia.

Lalu hikmah apa yang bisa kita ambil dari pesta politik ini. Pesta ini akan menjadi pesta yang penuh ironi karena sejujurnya pasti ada yang menang dan pasti ada yang kalah. Munafik jika kita para praktisi politik, para kandidat, para “calon” legislatif, eksekutif, pusat dan daerah seperti saya ini untuk mengatakan “demokrasi pemenangnya”.

Bacaan Lainnya

Akuilah bahwa setiap kemenangan pasti ada kekalahan. Bahkan pemenang pun satu waktu akan berakhir masa jabatannya – dan habisnya waktu pun akan menjadi kekalahan. Kita harus akui kekalahan itu akan menimbulkan berbagai risiko yang tidak diinginkan dan pasti terjadi. Jika hanya risiko sumber daya mungkin masih bisa dihadapi, tetapi ketika sudah menyangkut psikis/ jiwa, tidak semua orang bisa mengatasi.

Saya dengan pengalaman selama ini telah merasakan pahit getirnya kekalahan (dan kemenangan) karena kemenangan juga bukan berarti kegembiraan karena kemenangan adalah awal dari “perjuangan” hati yang sebenarnya. Bukan hanya perjuangan mewujudkan janji-janji politik, tapi perjuangan untuk bisa berbuat adil, bijak, dan itu sulit, apalagi jika melihat kepentingan politik, karena pemimpin akan dituntut bukti dan komitmennya saat menang.

Tapi itu pun masih hal yang bersifat “munafik”, masih ada perjuangan yang lebih riil yang harus dipahami.

Perjuangan besar yang saya rasa lebih riil dan besar adalah berbicara godaan. Harus jujur kita katakan, godaan ini sangat-sangat jelas dan banyak di “atas” sana. Lalu bisakah kita berdiri tegak menghadapi “godaan” itu?. Di titik ini, setiap pemimpin politik, setiap pemenang Pemilu, setiap insan “terpilih” akan diuji perjuangan yang sebenar-benarnya. Jangan munafik, jangan cerita korupsi dulu, cerita godaan panggung saja sudah tidak terhitung banyaknya: karpet merah, kursi diatas panggung, pidato, cium tangan, tepuk tangan, lidah-lidah manis, makanan enak, ajudan setiap sudut, dan lainnya.

Harus diakui mengatasi buaian godaan privilege seperti itu saja sudah sangat sulit, akan selalu muncul titik rasa bangga, sombong, jumawa. Kita akan merasa marwah kita diatas langit ketujuh. Godaan seperti itu sudah saya rasakan dan alami meskipun hanya sebagai “wakil walikota”, dan jujur untuk berdiri merendah sedikit agar tidak lupa diri untuk hal kecil seperti itu saja tidak mudah.

Refleksi saya bagi para “calon-calon pemenang” pesta 2024 ini, mari kita bersiap diri dulu sejak awal.

Bersiaplah kalah, dan yang merasa akan menang nanti juga bersiaplah dulu untuk jatuh dari sekarang, bayangkan jika nanti ketika jabatan itu sudah dicabut.

Bersiaplah kehilangan alu-aluan hormat dan tepuk tangan. Bersiaplah untuk kembali naik “ojek” dan berkeringat lagi mencari nafkah.
Bersiaplah dari sekarang, agar saat kita duduk menjabat dan memimpin tetap menginjak bumi.

Bersiaplah agar kita tidak lupa diri, tidak lupa bahwa ada waktu yang akan habis nantinya.
Bersiap juga bahwa banyak jejak, banyak mata, banyak telinga, dan banyak suara yang akan berbicara,

Dan untuk diri saya pribadi, tolong selalu ingatkan saya untuk:

Jagalah setiap perbuatan, tindakan dan ucapan saat menjabat.Bekerja keraslah penuhi setiap janji dan komitmen pada rakyat.

Jagalah itu semua, kecuali niat kita menang memang untuk yang “lain.(**)

Oleh: Dr.Akhmad Syarifuddin Daud 

-Wakil Wali Kota Palopo periode 2013 – 2019 

-Calon Wali Kota Palopo 2024

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *