VIA DOLOROSA “Jalan Kesengsaraan”

TAHUN 33 Masehi di tanah Yudea Palestina seorang pemuda tukang kayu bernama Yesus dari desa Nazareth sedang menghadapi dakwaan yang berat dari imam-imam besar majelis agama Yahudi. Dia dituduh telah mengajarkan suatu ajaran yang sesat, karena mengaku sebagai anak Allah dan Raja orang Yahudi, sehingga mereka menghakimi Yesus bersalah dan telah menghujat agama Yahudi karna itu harus dihukum mati.

Karena pengadilan agama tidak bisa menghukum mati seseorang maka umtuk melegitimasi penangkapan Yesus para imam menyerahkan ke wakil pemerintahan kaisar Romawi gubernur Yudea Pontius Pilatus, dalam pemeriksaan Pilatus tidak menemukan kejahatan pada Yesus sehingga dia berkelit dan tahu Yesus berasal dari Galilea yang waktu itu punya raja sendiri sebagai wali kerajaan Romawi yaitu Herodes Antipas, sehingga Yesus dibawa ke hadapan raja Herodes, namun raja Herodes tidak ingin ikut dengan masalah intern keagamaan disamping dia tidak menemukan kesalahan pada Yesus sehingga dia mengembalikanya ke Pilatus. Kembali dihadapan Pilatus yang menjadi bingung karena Yesus tidak bersalah, tapi kalau dia membebaskannya maka orang banyak di luar yang bertetiak-teriak akan  marah dan membuat rusuh, sedangkan memberi hukuman mati terhadap orang yang tidak bersalah adalah tidak benar.

Bacaan Lainnya

Akhirnya Pillatus memberi pilihan kepada orang-orang  Yahudi yang ramai menuntut dia, dengan mengatakan pada hari Paskah sesuai tradisi akan membebaskan seorang tahanan kemudian dia membawa tahanan seorang penjahat dan pemberontak Yahudi bernama Barabas kemudian Pilatus berbicara kepada orang banyak yang mana yang kamu pilih untuk dibebaskan  Barabas seorang penjahat atau Yesus yang tidak bersalah ini, semua orang disitu berteriak bebaskan Barabas dan salibkan Yesus.

Pilatus mendebat mereka tapi mereka berkata biarlah darahnya ditanggungkan kepada anak cucu kami, mendengar ini dan susana semakin rusuh Pilatus tidak ada pillihan lain dia mengambil baskom berisi air dan mencuci tanganya sambil berkata, saya tidak menanggung darah orang yang tidak bersalah ini. Kemudian Yesus dibawa oleh para penjaga dan tentara Romawi untuk disiksa, dicambuk dan diberi bulatan duri di kepalanya sebagai mahkota. Setelah disiksa Yesus disuruh memikul salibnya sendiri ke sebuah bukit di luar tembok Yerusalem yang disebut Golgota, karena tdak mampu memikul kayu salib yang berat Yesus sampai terjatuh dua kali dalam perjalanannya, akhirnya tentara meminta seorang dari Kirenia bermama Simon untuk membantu mengangkatnya sampai ke bukit.

Di sanalah Yesus disalibkan bersama dua orang penjahat lainnya. Tangan dan kakinya dipaku ke kayu dan tergantung selama tiga jam dan perempuan-perempuan dari Galiliea memgikuti proses ini dari jauh. Kira-kira jam 12 kegelapan meliputi daerah itu  dan penulis Injil mencatat ada  tujuh kalimat perkataan Yesus selama di kayu salib sebelum Yesus mati.

Ketika Yesus mati, Injil mencatat terjadinya hal-hal aneh berikut ini:

Tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.

Terjadilah gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah.

Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi.

Kemudian datanglah prajurit-prajurit untuk mematahkan kaki orang-orang yang disalib, supaya cepat mati dan mayat-mayat dapat diturunkan. Hal ini atas permintaan orang-orang Yahudi kepada Pilatus, berhubung hari itu hari persiapan sebelum Paskah Yahudi. Ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kakinya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambungnya dengan tombak dan segera mengalir keluar darah dan air.

Sesudah seluruh orang banyak yang datang berkerumun disitu untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri.

Yusuf dari Arimatea meminta mayat Yesus kepada Pontius Pilatus dan setelah dikabulkan segera mengapani mayatnya dengan bubuhan rempah-rempah oleh Nikodemus dan menguburkan mayat itu dalam kuburan yang dimiliki oleh Yusuf.

Inilah sejarah penyaliban Yesus yang disebut Via Dolorosa yang ditulis oleh empat penulis Injil.

Catatan sejarah sejumlah sumber non-Kristen mencatat penyaliban dan kematian Yesus:

Mara Bar-Serapion, penulis dari Suriah yang menyebut ada seorang “raja yang bijak” dihukum mati oleh orang Yahudi.

Sejarahwan Romawi, Tacitus, dalam tulisannya Annals (116 M), mencatat “Kristus menderita hukuman ekstrem pada pemerintahan Tiberius di tangan salah seorang prokurator kami (Pontius Pilatus).”

Satiris Yunani, Lucian, menyebut Yesus sebagai “Persona terkemuka yang mengajarkan ritual baru dan disalibkan karena hal itu.”

Sejarawan Yahudi pada abad ke-1, Flavius Yosefus (dalam bagian yang diperdebatkan) mencatat: “Kira-kira pada waktu itu, Yesus, seorang bijak, kalau boleh menyebutnya “manusia”; karena ia adalah pembuat pekerjaan yang menakjubkan, seorang guru sedemikian yang membuat orang menerima kebenaran dengan sukacita. Ia menarik banyak pengikut, baik orang Yahudi maupun orang asing. Ia adalah Kristus.

Dan ketika Pilatus, atas usulan orang-orang terkemuka di antara kami, menghukumnya dengan penyaliban, mereka yang menyayanginya pada mulanya tidak meninggalkannya; karena ia menampakkan diri lagi hidup-hidup kepada mereka pada hari ke-3, sebagaimana nabi-nabi kudus telah meramalkannya dan puluhan ribu hal ajaib lain tentang dia. Dan suku Kristen yang dinamakan menurut dia, tidak punah sampai hari ini.#Sumber Istimewa

*Selamat Hari Jumat Agung*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *